Kementerian Pertanian Perlu Pahami Demand Management

1. Daging Sapi 01Mana duluan, demand dulu atau supply dulu? Pertanyaan ini seperti menanyakan mana dulu ayam atau telur. Namun dalam ilmu Supply Chain Management, saya mengatakan demand—permintaan—harus didahulukan.

Menilik kasus yang terjadi mengenai tidak tepatnya pemberian jumlah kuota impor daging sapi yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian, saya melihat bahwa mereka belum memahami demand management.

Langkah yang telah dilakukan dengan mengadakan sensus sapi nasional untuk mengetahui jumlah supply daging sapi nasional sudah tepat. Namun, ada satu langkah penting di dalam ilmu demand management yang tidak dilakukan, yaitu forecasting—perkiraan atau peramalan—.

Forecasting melihat historical trend yang telah terjadi, misalkan festive season seperti Hari Raya Idulfitri, Iduladha, dan Natal yang setiap tahun selalu mendongkrak naiknya demand daging sapi. Dengan naiknya demand daging sapi, supply daging sapi tentu harus diproyeksikan naik.

Forecasting yang dilakukan harus dengan 2 cara, yaitu top-down forecasting dan bottom-up forecasting. Top-down forecasting dilakukan dengan menentukan satuan angka konsensus nasional demand daging sapi berdasarkan kebijakan target pemerintah, dalam hal ini target Kementerian Pertanian. Demand nasional ini kemudian dipecah-pecah menjadi demand provinsi. Demand provinsi dipecah menjadi demand kabupaten dan seterusnya sampai dengan level terendah yang mampu diolah oleh demand manager di Kementerian Pertanian. Semakin rendah level data yang diolah, maka semakin akurat data demand tersebut.

Selanjutnya, yang seharusnya dilakukan adalah bottom-up forecast yaitu dengan mengumpulkan data dari forecast demand daging sapi level terendah, kemudian digabungkan menjadi forecast demand daging sapi nasional. Katakanlah forecast dilakukan dari level demand di setiap pasar. Kemudian, forecast demand pasar dijumlahkan menjadi forecast demand kecamatan. Forecast demand kecamatan lalu dijumlahkan menjadi forecast demand kabupaten dan seterusnya sampai dengan didapat angka forecast demand nasional.

1. Daging Sapi 02Jika Kementerian Pertanian sudah menerapkan demand management, mereka pasti mempunyai dua angka ini, yaitu angka top-down forecast dan angka bottom-up forecast. Kedua angka ini kemudian diadu dan dianalisis.

Saya bisa mengatakan bahwa kecenderungan bottom-up forecast pasti akan lebih tinggi daripada top-down forecast di level nasional, karena supply lebih rendah daripada demand. Kedua data tersebut diadu untuk mendapatkan selisih. Kemudian, analisis terhadap selisih kedua forecast demand daging sapi ini harus dilakukan sampai dengan dikeluarkan angka konsensus nasional demand daging sapi.

Demand konsensus daging sapi inilah yang seharusnya menjadi dasar perhitungan berapa supply yang dibutuhkan secara nasional. Supply kemudian dibagi menjadi dua, yaitu lokal dan impor. Sehingga didapat angka berapa kuota impor yang sebenarnya dibutuhkan.

Early warning system supply daging sapi

Dalam forecasting dikenal istilah horizon, yaitu seberapa jauh kita mampu melihat demand jangka panjang. Kejadian langkanya keberadaan daging sapi pada saat hari raya seharusnya sudah bisa diprediksi dalam analisis forecasting.

Kementerian Pertanian bisa mengeluarkan early warning system kepada pihak terkait bahwa supply daging sapi akan kurang pada saat hari raya agar ada upaya untuk meningkatkan supply (menambah kuota impor misalnya) atau menaikkan harga daging (seperti yang terjadi).

Selama demand management tidak diterapkan di Kementerian Pertanian, tidak akan ada visibility yang tepat mengenai keakuratan cukup tidaknya supply daging sapi.

Apakah demand daging sapi=asumsi kebutuhan daging per kapita?

Diasumsikan kebutuhan daging sapi penduduk Indonesia adalah 2kg/tahun/kapita, sehingga dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, maka dibutuhkan daging sapi sebanyak 500 juta kg per tahun. Apakah cara ini cukup akurat dalam menentukan kebutuhan daging Indonesia?

Dalam demand management dikenal istilah bullwhip effect. Katakan demand konsumen adalah 1 kg per hari.

Konsumen membeli daging dari pasar. Maka demand pasar bisa menjadi 2 kg per hari karena mempertimbangkan safety stock. Kemudian, supply untuk pasar akan menjadi 3 kg karena mempertimbangkan safety stock dan waktu in transit dengan memperkirakan kedaluwarsa, tentunya. Jika supply di pasar sedang kosong, demand konsumen bisa menjadi 2 kg karena safety stock di sisi konsumen akan muncul dalam kekhawatiran langkanya supply. Demand pasar juga akan meningkat menjadi 4 kg, dan seterusnya.

Jika tidak dicegah, harga akan melambung naik. Cara mencegah bullwhip effect inilah yang harus dipahami melalui demand management.

Demand konsumen seharusnya bukanlah demand kementerian pertanian, melainkan demand Kementerian Perdagangan. Demand Kementerian Pertanian adalah demand pasar.

Dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa demand pasar lebih besar dari demand konsumen. Jika pemahaman demand management ini tidak diterapkan, jangankan early warning system, untuk mencukupi supply daging sapi secara menyeluruh saja tidak akan terjadi.

Swasembada daging sapi 2014

Jika penentuan keputusan kuota impor masih dipegang oleh Kementerian Pertanian yang belum memahami demand management, maka swasembada sapi memang akan tercapai. Rakyat hanya bisa menyaksikan bagaimana harga daging sapi melambung saat supply minim. Di saat harga daging sapi ini melambung, daya beli masyarakat akan turun.

Supply akan lebih besar dari demand. Swasembada daging sapi akan terjadi di Indonesia. Tapi, masyarakat tidak mampu lagi membeli daging sapi sehingga supply sapi akan melimpah. Apakah definisi swasembada seperti ini yang diharapkan?

Tidak ada kata terlambat untuk belajar mengenai demand management agar penentuan kuota supply daging sapi semakin akurat. Jangan sampai swasembada sapi tercapai, tapi masyarakat tak bisa menikmatinya. Semoga bermanfaat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *